Liburan kePantai

Liburan semester pertama telah memasuki hari pertama. Anak-anak kelas 1, 2, 3 B dan anak-anak kelas 1, 2, 3 D diajak oleh wali kelas masing-masing untuk berlibur bersama ke pantai. Beberapa anak senang dengan ide tersebut, tetapi ada juga yang tidak setuju dan malas ikut. Anak-anak yang tidak setuju itu memang benar, soalnya liburan semester pertama ini juga memasuki bulan Desember, jadi hampir setiap hari akan turun salju. Hal itu pun akan membuat air di laut menjadi sedingin es. Sayangnya, anak-anak yang setuju tidak percaya dengan alasan itu. Setelah mengambil suara, di putuskan bahwa anak-anak akan tetap pergi berlibur ke pantai. Pagi hari itu, 6 bis sekolah sudah berparki di depan gerbang sekolah. Anak-anak kelas B dan D tanpa membuang-buang waktu langsung menyerbu ke dalam bis. Beberapa anak yang tidak kebagian tempat di dalam bis, terpaksa duduk di atas atap bis. “Apa semua anak sudah naik?!” tanya Mr.Shareda setengah berteriak kepada anak-anak kelas 1B. “SUDAH!” jawab anak-anak kelas 1B kompak, Mr.Shareda mengangguk-angguk mengerti, maka ia pun langsung ikut masuk ke dalam bis dan segera duduk di sebelah sopir bis. “Bisa jalan sekarang?” Tanya sopir bis ramah. “Ya, ya, silahkan jalan sekarang.” Bis kelas 3B melau terlebih dahulu diikuti 3D, 2B, 2D, 1B, dan yang terakhir jelas 1D. Selama perjalanan, di dalam bis anak-anak kelas 1B, beberapa anak sibuk ngobrol sampai membuat kepala Mr.Shareda nyut-nyutan karena tidak tahan dengan suara gaduh murid-muridnya. Bahkan ada juga beberapa anak yang justru sibuk membaca dengan seriusnya. “Asyik! Akhirnya, kita liburan ke pantai!” sorak Mikan senang. “Ya jelas senenglah, soalnya juga ada anak kelas 1D,” sela Asani yang duduk tepat di belakang Mikan. “Kok bisa?” tanya Anake penasaran sambil menoleh ke belakang dimana Mikan duduk tepat di belakangnya. “Kalo boleh tau, kenapa sih, kamu seneng banget kalo ada anak kelas 1D?” “Huuu… mau tau aja!” jawab Mikan dengan nada centil. “Cappeeee deh…,” gumam Ine yang duduk di sebelah kiri Anake. “Kalo mau tau, itu karena di kelas 1D, ada Khansamu atau julukan lainnya Yasamikan,” sahut Asani dari belakang Mikan. Iko, Itsuki, Ichiko, dan Erashui yang duduk di barisan belakang beredhem penuh arti. “Apaan sih?” sergah Mikan dengan nada sebal. “Enggak apa-apa kok!” jawab mereka berlima serempak, membuat hati Mikan tambah panas. Mr.Shareda yang berusaha tidur hanya malah nambah nyut-nyutan kepalanya karena pusing mendengar suara gaduh dari arah belakang tempat murid-murid kelasnya duduk. Hah… mau santai malah menderita! Nasih… nasib…. kenapa selalu kebagian jadi wali kelas yang muridnya aneh-aneh…. Pikirnya lemas sambil geleng-geleng kepala. Setelah perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya mereka sampai di pantai yang mereka tuju, yaitu pantai Oscar Ocean yang letaknya tidak terlalu jauh dari kota tempat mereka tinggal. Selain itu, pantai Oscar Ocean juga salah satu pantai yang termasuk dalam pantai tropis, jadi tidak masalah jika berenang di musim dingin. Kemudian, para sopir bis memakirkan bisnya masing-masing di tempat parkir khusus untuk bis wisata. Setelah diparkirkan, anak-anak kelas 1, 2, 3 B dan D langsung keluar dari mobil sambil meneteng tas bawaan masing-masing. Mr.Shareda turun dari bis dengan perasaan yang amat sangat senang. Fuuhh… syukurlah sudah sampai.. dengan begini akhirnya aku bisa tidur dengan tenang dan santai tanpa ada gangguan sedikit pun… Batinnya dalam hati. Mr. Shulli, kepala sekolah Maruke Junior High School memberi arahan kepada murid-muridnya. “Anak-anak kalau kalian semua ingin berenang, lebih baik kalian letakkan dahulu barang bawaan kalian di hotel yang sudah pihak sekolah pesankan.” “YAA….!!!” jawab mereka semua serempak. Kemudian setelah meletakkan barang bawaan masing-masing di hotel yang sudah di pesankan oleh pihak sekolah pekan lalu, anak-anak kelas 1B yang paling semangat, langsung berlari menyerbu pantai. “HOREE! HOREE! Akhirnya, setelah sekian lama aku bisa berenang sambil gaya juga!” sorak Andie, senang setelah ia berhasil memperagakan berbagai macam gaya berenang di air kepada teman-temannya. “Cemen banget sih lo, baru bisa berenang aja udah kesenengan gitu!” sindir Ine, yang sebenernya merasa iri pada Andie karena dirinya tidak bisa bergaya dalam air, jangankan bergaya, berenang aja sebenernya GAK BISA! “Emang gue pikirin….,” balas Andie cuek bei-beh. Ine memandang Andie dari belakang dengan sebal sambil memanyunkan bibirnya (ini sudah menjadi ciri khas Ine saat marah atau pun ngambek). “JUMP!!” Noushiko, Iffle, Arkle, dan Akiyo loncat bersamaan ke dalam laut sambil teriak dengan bersamaan pula. BYUURR!! Mereka berempat masuk ke dalam laut yang paling kedua setelah Andie barusan. Anak-anak yang lain pun tidak lama kemudian ikut menyusul lompat ke dalam laut. “Puah! Enak banget!” sahut Noushiko setelah memunculkan kepalanya dari dalam air. Akiyo yang muncul di sebelahnya mengangguk setuju. Dari jauh, Mr.Shareda mengamati murid-murid kelasnya sambil tersenyum puas. Ah… akhirnya, tidak ada yang menggangguku… Batinnya lega. Mr.Shareda menggelar tikar tepat di bawah pohon kelapa dan tanpa buang-buang waktu beliau langsung merebahkan tubuh rentanya di atas tikar yang baru saja di gelarnya. Tidak terlalu jauh dari tempat itu. Anake, Kin, Takeshi, Mikan, dan Rei sedang mengamati Mr.Shareda dengan seksama. “Sip, sasaran aman, bisa kita bidik sekarang?” tanya Mikan tidak sabaran pada Rei. Laki-laki bertubuh bantet itu mengangguk mantap seraya mengeluarkan 3 buah ketepel dari saku celana renangnya, bersamaan dengan Takeshi yang juga sibuk mengeluarkan puluhan batu kerikil yang ia dan Rei kumpulkan sebelum berangkat tadi. “Edan banget sih kalian, sempet-sempetnya bawa batu kerikil sama ketepel!” kata Anake sambil merebut salah satu ketepel yang di bawa oleh Rei. “Aku pinjem satu ya!” sambungnya sambil tersenyum jahil. “Eh, aku juga dong!” Mikan ikut-ikutan ngambil ketepel Rei. “Huu…! Makanya jangan bawa baju ama majalah doang! Bawa juga dong, alat-alat hiburan, kayak gini neehhh…..,” ucap Rei, pamer sambil mengacung-acungkan ketepel terakhirnya tinggi-tinggi. “Alah, berisik banget sih lo!!” sergah Kin sambil merebut ketepel terakhir Rei. “Yah, yah, jangan dong….,” kata Rei sambil berusaha merebut kembali ketepel terakhirnya dari tangan Kin. Akhirnya dengan susah payah, Rei berhasil mendapatkan ketepel terakhirnya. “Oh… ketepelku yang malang, kau barusan di pegang oleh manusia jadi-jadian satu ini….,” ucap Rei sambil mengelus-ngelus ketepelnya dengan penuh rasa kasih sayang. “Hah? Apa katamu barusan?!” Kin mengacungkan tinjunya di depan wajah Rei. “Eng, enggak kok…,” jawab Rei gelagapan sambil geleng-geleng panik. “Dasar! Sekali lagi kamu ngece sama aku…,” Kin berhenti sebentar, “…bakal mampus lo!” ancamnya sambil menarik tinjunya kembali. “Fiuh…,” Rei menghembuskan napas lega. Hampir aja jadi makan siang Kin! Ucapnya dalam hati. “Eh, Takeshi…. gimana sih caranya ngetepel?” tanya Mikan dengan nada merayu. “Gampang aja kali! Kamu tinggal ambil batu ini…,” Takeshi berjongkok mengambil batu kerikilnya tadi lalu kembali berdiri lagi, “..setelah itu, bidik….,” Ia menarik karet ketepel dan mulai membidik sasarannya, yaitu sebuah kelapa tepat di atas tempat Mr.Shareda berbaring, “…seteah tepat dengan sasaran…. TEMBAK!!” Katanya sambil melepaskan karet ketepel. SYUUUTTT….. PLETAK! Tembakan Takeshi berhasil mengenai sasaran dengan sempurna. “Wauw… hebat banget, coy!” puji Kin dari belakang Mikan. “Oke, berikutnya aku!” serobot Anake seraya memasang ketepelnya dan mulai membidik. “Kamu mau nembak apa?” tanya Mikan heran. “Hmm…,” Anake terlihat berpikir sebentar, “..mulut Mr.Shareda,” jawabnya tidak lama kemudian. Baik Mikan, Takeshi, mau pun Kin, ketiganya langsung menganga hebat mendengar jawaban Anake. Bahkan Rei yang sedang sibuk mengelap ketepelnya dengan serbet yang ia bawa, nyaris saja melemparkan benda pusaka kesayangannya yang sudah mulus dan mengkilap itu karena saking kagetnya. “Serius?!” tanya Kin tidak prcaya. Anake hanya mengangguk-angguk saja. Saat Mr.Shareda menguap, Anake dengan cepat langsung melepaskan karet ketepelnya. “SEKARANG!!” serunya. SYUUTT…. HAP, GLEKK! Mr.Shareda tanpa sadar ternyata telah menelan batu kerikil yang di tembakkan oleh Anake! (Hebar banget, coy…!) Takeshi, Rei, Kin, Mikan, bahkan Anake, semuanya memandang takjub Mr.Shareda dari kejauhan dengan mulut menganga. “Heb, hebat banget….,” gumam Anake tidak percaya. Tiba-tiba, CTAKK! BUKK!! “Suara apaan, tuh?!” tanya Takeshi pada yang lainnya. “Oh My God!” seru Anake, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Takeshi, Mikan, dan Kin pun tidak kalah kaget ketika melihat apa yang di lihat oleh Anake. “Eh Rei, bidik sih bidik, tapi kenapa nyampe….,” “Nyampe apa? Maksudmu nyampe mutusin buah kelapa dan jatuh tepat nimpa muka Mr.Shareda, gitu?” ambung Rei sambil menoleh ke arah Takeshi. Laki-laki bertubuh jakung itu hanya mengangguk-angguk tidak sadar. Rei memang tadi membidik buah kelapa, tetapi ia tidak tahu kalau buah kelapa yang ia kenai itu sampai jatuh dan menimpa muka Mr.Shareda. Lihat aja, nyampe bonyok gitu mukanya! Bahkan gigi-gigi tonggos mengkilapnya sampe ikut rata! Mendadak Mr.Shareda gelegep-gelegep kayak orang kesurupan. Takeshi dan yang lainnya menjadi panik saat melihat hal tersebut. “Aduh, jangan-jangan Mr.Shareda punya penyakit lagi! Kok nyampe gelegep-gelegep gitu sih!” kata Anake cemas. Tiba-tiba, “UARGH!!” Mr.Shareda dengan sekuat tenaga mengangkat buah kelapa yang menimpa mukanya. “SIALAN! SIAPA YANG BERANI NGELEMPAR KELAPA INI KE MUKA SEORANG GURU, HAH?!!” omelnya sembari melempar buah kelapa yang tadi di angkatnya ke sembarang arah. “Aduh…. kalo nyampe ketahuan, mampus kamu Rei!” kata Kin sambil menepuk pundak cowok berkulit coklat itu. “Alah, biarin aja lho! Kalian ini kayak gak tau Mr.Shareda aja!” balas Rei, “Beliau itukan guru terpikun di sekolah! Jam pelajaran sendiri aha gak hapal! Mana sering nyasar ke kelas laen lagi!” “Bener banget kamu Rei, palingan besok pagi udah lupa,” timpal Takeshi sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Mr.Shareda bangkit dari tidurnya dan kembali melipat tikarnya. “Huh, gak srek kalo tidur di sini, banyak yang rese’!” keluhnya setelah selesai melipat tikarnya kembali. Huh…, kali ini aku akan tidur di hotel saja..! Pikirnya berusaha tenang sambil beranjak pergi dari tempat itu. Tidak lama setelah kejadian itu, anak-anak dari kelas lain ikut berdatangan. Ada yang membawa ban renang, papan seluncur, dan lain-lainnya. Sore harinya, mereka semua baru kembali dari pantai. Sebagian anak ada yang langsung mandi dan membenahi diri mereka, sebagiannya lagi ada yang langsung menyantap makanan yang sudah di pesankan oleh sekolah untuk mereka. Kemudian malamnya, anak-anak dari kelas 1B berdiskusi tentang kegiatan apa yang akan mereka lakukan besok pagi. Dan akhirnya setelah melalui perdebatan yang panjang dan membuang banyak waktu, akhirnya diputuskan bahwa kegiatan yang akan diadakan besok adalah “Lomba Berenang Khusus Untuk Para Guru”. Dan saat ide itu diceritakan kepada para murid dari kelas lain, ternyata mereka semua setuju, bahkan para guru pun begitu. Maka ditetapkanlah, kegiatan mereka besok adalah mengadakan “Lomba Berenang Khusus Untuk Para Guru”. Keesokan pagi harinya, anak-anak kelas 1, 2, 3 B dan D berkumpul di tepi pantai bersama dengan wali kelas masing-masing, juga tidak ketinggalan dengan Mr. Shulli (kepala sekolah), Mr. Cavent (wakil kepala sekolah), dan Mrs. Tinoe (guru Counselee Guidance). Mereka melakukan pemanasan sebentar untuk merenggangkan tulang. Semua wali kelas kini sudah siap berdiri di garis Start (termasuk Mr.Shareda). Semua wali keals sudah siap terjun, Aystle yang di percaya sebagai wasit sudah mulai menghitung mundur. “Semua siap, aku akan menghitung mundur dari 10… 9… 8… 7… 0!! MULAI!!” serunya seraya meniup peluit tanda bahwa pertandingan telah dimulai. PRIIITTT!!! Spontan para guru termasuk anak-anak yang lain kaget karena baru angka 7, Aystle sudah menyebut angka 0 dan langsung meniup peluit. Akibatnya, beberapa guru jerit-jerit karena kaget. (Dikiranya ada bom, kali!). Konsentrasi para guru sudah mulai kembali, mereka secepat mungkin berlari meninggalkan tepi pantai dan langsung loncat ke laut. BYUR! BYUR! BYUR! “MR.SHAREDA! MR.SHAREDA! MR.SHAREDA!” anak-anak kelas 1B memberinya semangat. “MRS. SURHINA! MRS. SURHINA! MRS. SURHINA!” anak-anak kelas 1D tidak mau kalah memberi semangat pada wali kelas mereka. “MRS. SYUILLA! MRS. SYUILLA! MRS. SYUILLA!” sorak anak-anak kelas 2B antusias. “MRS. HESSINA! MRS. HESSINA! MRS. HESSINA!” anak-anak kelas 2D tidak kalah antusias rupanya. “MR. TEX! MR. TEX! MR. TEX!” anak-anak kelas 3B kompak memberi semangat wali kelas mereka. “MRS. DENADA! MRS. DENADA! MRS. DENADA!” ternyata anak-anak kelas 3D tidak kalah kompak. Para guru yang disemangati oleh anak-anak dari kelas mereka masing-masing, makin merasa semangat. Dan semangat Mr.Sharedalah yang paling membara. “Garis finishnya ada disana!” seru Aystle seraya menunjuk ke arah yang di maksudnya, yaitu sebuah bola karet berwarna merah yang mengapung di atas air. Saat ini posisi pertama dipegang oleh Mr. Tex, kedua Mrs. Surhina, ketiga Mrs. Denada, keempat Mrs. Hessina, kelima Mr.Shareda, dan yang terakhir Mrs. Syuilla. “AYO! AYO! AYO!” anak-anak itu semakin antusias memberikan semangat kepada wali kelas mereka masing-masing. Celakanya, Mr.Shareda mulai kelelahan dan merasa lemas, beliau pun makin tertinggal jauh di belakang. Melihat wali kelas mereka mulai kelelahan, anak-anak kelas 1B menjadi panik. “Aduh… gawat! Mr.Shareda sudah mulai loyo nih!” kata Andie sambil mondar-mandir kayak orang gila. “Kita harus menyemangatinya lebih keras lagi, ayo!” ajak Arkle. “Ya, Arkle benar! Mr.Shareda sudah berjuang, masa kita akan membiarkannya menyerah begitu saja, sih?!” timpal Takeshi. “Benar sekali! Kitakan murid-murid kelas 1B, murid terpilih dan terfavorit! Masa hanya diam saja melihat wali kelasnya sekarat.. eh maksudnya menyerah!” Anake ikut menambahi. Yang lainnya mengangguk setuju, maka dimulailah sorakan mereka yang paling heboh. “MR.SHAREDA JANGAN MENYERAH!!” “MR.SHAREDA KAU PASTI MENANG!! AYO MAJU!!” “JANGAN MAU KALAH!!” “BUKAN BERARTI KARENA MR.SHAREDA SUDAH TUA DAN TULANGNYA UDAH HAMPIR KARATAN SEMUA, ANDA LANGSUNG MAU MENYERAH BEGITU SAJA!!” semua anak kelas 1B menyemangati Mr.Shareda tanpa henti. Mr.Shareda yang mendengar sorakan semangat dari murid-muridnya menjadi terharu. Ia tidak menyangka dibalik kelakuan nakal dan brutal murid-muridnya, ternyata mereka menyimpan perasaan kekeluargaan yang begitu besar! “Kalian… hiks..!” Mr.Shareda mengelap air matanya yang sudah berlinang karena terlalu terharu. Benar…! Aku tidak boleh menyerah, perjalananku masih panjang dan aku tidak boleh menyerah di tengah jalan! Aku tidak boleh mengecewakan murid-muridku yang sudah mendukungku dan menyemangatiku sampai saat ini! Ucapnya semangat, dalam batin. Mr.Shareda mulai menggerakkan tangan dan kakinya lagi dan mulai berenang dengan semangat yang lebih tinggi tentunya. “HYYAAAAA!! AKU TIDAK AKAN MENGECEWAKAN MURID-MURIDKU!!” serunya dengan suara lantang. “AKAN KUTUNJUKKAN TRIK RAHASIAKU SAAT LOMBA RENANG!! LIHAT INI!!!” Mr.Shareda menggerakkan kaki dan tangannya dengan super cepat, walau pun sebenarnya Mr.Shareda merasa tulang-tulangnya sudah mulai soakan. Mr.Shareda berenang bagai di kejar gerombolan hiu yang siap memangsanya. Mr.Shareda pun berkali-kali berusaha memcah ombak yang menerpa dirinya dengan giginya yang merupakan satu-satunya alat yang ia punya untuk bertatung (gigi besi, euyy!!). Mr.Shareda dengan gesit mulai menyusul Mrs. Syuilla, kemudian perlahan-;ahan beliau mulai menyusul lagi Mrs. Hessina dan Mrs. Dennada. “YEAA!!” anak-anak kelas 1B kembali besorak penuh kemanangan. Mrs. Surhina dan Mr. Tex yang merasa tersaingi oleh Mr.Shareda pun ikut menambah kecepatan, tetapi sia-sia saja, pada akhirnya beliau berhasil menyusul kedua orang itu dan keluar sebagai pemanang. “YAHUII! MR.SHAREDA MENANG!!!” sorak anak-anak kelas 1B ketika melihat wali kelas mereka berhasil melewati bola karet yang mereka anggap sebagai garis finish. Sedangkan anak-anak kelas lainnya hanya menghela napas pasrah saja dengan kekalahan wali kelas mereka.
Saat semua guru sudah kembali ke pantai, Mr.Shareda yang berada di antaranya langsung disambut ceria oleh anak-anak kelas 1B. “Mr.Shareda hebat lho!” puji Tynna. “Iya, hebat banget! Aku aja enggak bisa berenang secepat itu!” timpal Umiko. “Iya, iya, terima kasih juga atas dukungan kalian, ya,” Balas Mr.Shareda sambil tersenyum kecil saja, tetapi dalam hati beliau GR setengah mampus. Setelah puas memberikan berbagai macam ucapan selamat, Mr. Cavent mengajak mereka semua bersenang-senang di hari terakhir mereka berlibur di pantai tersebut. Ada sebagian anak yang berenang, sibuk membaca buku di bawah pohon kelapa, berjemur, bermain pasir, melakukan penelitian, foto-foto, bahkan ada sebagian juga yang justru sibuk mojok dengan pasangannya masing-masing. Sore harinya, mereka semua kembali ke hotel. Setelah semua anak dan para guru membersihkan diri, Mr. Shulli dan Mr. Cavent mengajak semua anak dan para guru makan bersama di tepi pantai. Semua persiapan sudah di siapkan oleh anak kelas 3 siang tadi saat semuanya sedang bersenang-senang. Kemudian, pukul 18.45, mereka semua berkumpul di tepi pantai dan memulai acara makan bersama mereka. Beberapa anak terlihat berebut daging panggang yang sudah hampir matang. “Oi… bagi-bagi dong…,” Rintih Noushiko karena tidak kebagian makanan gara-gara semua jatahnya udah ke’emplok sama Dannies yang super rakus. Sambil makan, mereka juga menikmati acara api unggun dan atraksi yang di lakukan oleh beberapa anak dari setiap kelas. Setelah itu, di susul dengan acara cerdas-cermat, games, dan tentu saja acara bernanyi dan menari bersama. Beberapa anak yang mengikuti ekstrakurikuler tari, boleh menunjukkan trik-trik menari mereka sambil diiringi oleh musik pulihan mereka sendiri, begitu pun dengan anak-anak yang mengikuti ekstrakurikuler vokal, mereka tidak segan-segan bernyanyi dengan suara super nyaring yang nyaris memecahkan kaca-kaca di sekitar mereka. Tetapi bagi mereka yang tidak mengikuti kedua ekstrakurikuler tersebut juga boleh kok ikut menunjukkan kebolehan mereka. Pukul 22.30 Mr. Shulli menutup acara makan bersama mereka dengan pidatonya yang panjang lebar, bahkan nyaris tanpa koma. Pukul 24.00, mereka baru kembali ke hotel sesudah berakhirnya pidato Mr. Shulli yang super panjang. Keesokan paginya, mereka semua sibuk membenahi barang masing-masing karena pada hari itu juga mereka akan kembali ke sekolah mereka. Dan akhirnya, setelah berjuang dan bersusah paah kelua dari kekacauan yang terjadi pagi itu, mereka semua selesai membenahi barang-barang mereka. “Semua sudah pada naik?” Tanya Mr.Shareda pada murid-murid kelasnya. “Sudah!!” Jawab anak-anak kelas 1B, serempak dan semangat. Mr.Shareda mengangguk puas lalu ikut naik ke dalam bis. Kemudian, setelah anak-anak kelas lainnya masuk ke bis masing-masing, mereka semua pun mulai berangkat meninggalkan pantai Oscar Ocean.

TAMAT

Silahkan Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s