Asal Mula KEcoa

Jaman dahulu kala, di sebuah desa yang di beri nama desa suka mandi kembang, hiduplah seorang gadis bernama Era, dia hidup sebatang kara kaya toge. orang tuanya sudah lama meninggalkan dia, ibunya meninggal karena penyakit latah yang sangat akut, sedangkan ayahnya meninggal karena flu anjing. Era hidup di sebuah rumah yang dia beri nama gubuk derita. suatu hari Era melihat pengumuman di sebuah papan yang bertuliskan: “PENGUMUMAN PENGUMUMAN SIAPA YANG PUNYA ANAK BILANG AKU AKU YANG SEDANG MALU, SAMA TEMAN-TEMAN KARNA CUMA DIRIKU YANG TAK LAKU-LAKU..” Sesaat Era terdiam, dan kebingungan, dengan wajah yang seperti ini (-.-) Era kembali membaca tulisan di bawahnya: “OKE, BERHUBUNG SANG PANGERAN BELUM PUNYA ISTRI SAMPAI SEKARANG, SEDANGKAN RAJA DAN RATU TAKUT KALAU PANGERAN MENJADI BUJANG LAPUK. MAKA KEPADA SELURUH GADIS DI DESA INI, YANG MERASA DIRINYA SEORANG GADIS TENTUNYA. DI HARPKAN KEHADIRANNYA DI ISTANA MALAM INI PUKUL 18.00 WIB sesudah solat magrib, dan sehabis berbuka puasa. demikian pengumuman hari ini. lebih kurangnya saya mohon maaf, wabilahitofikwalhidayah wasalamualaikumwarohmatulahiwabarokatu”
Era langsung berlari pulang, dan mengobrak-abrik isi lemarinya, tapi dia tidak menemukan baju satu pun. ya jelas aja gak ketemu wong yang di bukanya lemari es! raut wajah kecewa terlihat di wajah Era, padahal ia ingin sekali hadir di pesta itu. tiba-tiba muncul cahaya yang berubah menjadi sosok wanita tua yang gendut, lengkap dengan sayap, tongkat sihir dan kaca spionnya, eh, salah, kacamatanya. “Wahai, gadis cantik, mengapa kau menangis?” kata sang ibu teri. “Ibu teri, aku sedih, aku ingin ikut di pesta pangeran nanti malam, tapi aku tak punya baju. hikz. hikz” Era menangis tersedu-sedu, samapi ingusnya meler. ” kasihan sekali kau, baiklah kalau begitu, aku akan mengubah mu menjadi gadis yang sangat canti untuk pesta nanti malam, tapi kau hanya dapat menikmati itu semua sampai jam 12 malam. karena bila lewat dari jam segitu…. bagaimana eike mau mangkaal booo, bajunya aja elu pake??” ucap ibu teri, sambil menirukan gaya khasnya emon di catatan si boy. “idih. baiklah kalau begitu. asalkan aku bisa bertemu dengan pangeran” Era mengusap air matanya dan tersenyum kecil. ibu teri membacakan sebuah mantra sambil menunjukan tongkat sihirnya pada Era “Hompimpa alaihum gambreng, nek ijah pake baju rombeng, unyil kucing, unyil kucing!” kta ibu teri. ‘mantra yang aneh’ ucap era dalam hati. tidak lama Era berubah menjadi gadis cantik dengan gaun merahnya, tak lupa sepatu kuda yang menghias kakinya. “Terimakasih banyak ibu teri, terima kasih..” Era memeluk ibu teri. “Sama2 anak ku. tapi ingit, sebelum jam 12, kau harus mengantarkan barang2 yg ku pinjamkan ini, di perempatan desa sebrang. oke?!” “baiklah ibu teri” “kalau begitu aku pulang dulu” ibu teri menjentikan jarinya, tapi dia tidak menghilang, ia menjentikan lagi jarinya, ttp saja dia tidak menghilang. langsung saja ibu teri dengan wajah polosnya, mengambil tindakan, ia membuka pintu, berdiri di pinggir jlan, sambil menunjuk, saat angkot lewat, ia langsung naik, dan melambaikan tangan pada era.

saat di pesta dansa, Era adalah gadis tercantik, semua wanita memandang iri padanya, rambut era yang panjang lurus dan hitam tergerai indah. “rambut kamu bagus ya?” kata seorang tamu pada Era. “Ah, cuma pake shampo kok.” ucap Era dan meninggalkan tamu itu dengan wajahnya yang bengong.
“HADIRIN SEKALIAN, KITA SAMBUT PANGERAN LUPIN!” munculah sang pangeran tampan itu, dia langsung berjalan ke arah Era dan mengajaknya berdansa.
tiba saat tengah malam, namun Era masih saja terus berdansa. sedangkan Ibu teri menunggunya di perempatan bersama teman2 lekongnya. Era terus berdansa sampai pagi (udah kaya dangdutan aja, gak cape apa ya) dia terkejut. dia sadar dia lupa mngembalikan bajunya pada ibu Teri. dia berlari keluar istana dan masuk ke gubuk deritanya. dia sembunyi kolong tempat tidurnya. (padahal tempat tidur aja gak punya) tiba2 mncul ibu teri dengan raut muka yang sangat marah. “wahai gadis tidak tau diri! mengapa kau tidak menepati janjimu?!” ucap Ibu teri. ” maafkan aku, aku lupa dengan janji ku.” “gara kamu! tadi malam aku tidak dapat langganan! terkutuk kau!” ibu teri menunjukan tongkat sihirnya. sesaat Era berubah menjadi hewan kecil berwarna coklat, lengkap dengan 2 antena di kepalanya (mungkin itu parabola atau indovision). lalu ibu teri meninggalkan Hewan itu sendiri di gubuk derita yang sangat kumuh itu, Ibu teri pergi dengan angkot lagi.
TAMAT

Silahkan Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s