Meleleh

Ahh, kalau begini bagaimana aku bisa melupakanmu, Sayang? Kamu memandang dalam kedua mataku, tanganmu menyentuhku lembut, lalu menggenggam jemari tanganku, sementara darahku mendesir saat kamu menyentuhku. Hatiku bergejolak, berusaha keras menahan hasrat untuk memelukmu, membelaimu dalam pangkuanku. Sulit sekali menolehkan kepalaku, memalingkan pandanganku dari wajahmu yang jelita. “Aku suka kamu.” ujarmu tersenyum.

Aku mengejarmu karna aku menginginkanmu..” dengan tatapan penuh arti kamu memandangku, lalu menyeruput secangkir cappucino hangat yang tersaji di atas meja kita.

Bagaimana mungkin kamu yang mengejarku, Sayang? Bukankah sejak semula aku yang ingin mengenalmu lebih jauh? Menyapamu setiap hari? Menggodamu hingga kau menyukaiku?

Katakan sesuatu. Apa kamu juga menyukaiku?“Lagi-lagi suaramu yang lembut bergemerincing menanti jawabanku.

Ya ampun Sayang, apa perlu kukatakan sesuatu untuk meyakinkanmu kalau aku pun menyukaimu? Tak hanya menyukaimu, kurasa seluruh bagian tubuhku menginginkanmu. Hanya saja, butuh keberanian ekstra untuk mengungkapkan ini lewat bibirku yang kelu.

Ahh, sepertinya aku hanya bertepuk sebelah tangan.” kamu terkekeh, lalu mendesah memalingkan wajah yang memerah padam. Kamu melepaskan genggaman tanganmu.

Maaf kalau aku terlalu berharap padamu.” ujarmu lagi menunduk kecewa.”Tapi kita masih tetap berteman kan?” kata-katamu terus saja meluncur.

Tiba-tiba saja kamu berdiri dari bangkumu yang nyaman, berlalu dari hadapanku. Aku hanya bisa mematung, melihatmu pergi menjauh. Hujan gerimis belum usai, dari jendela kaca yang bening, kulihat tetesan air membasahi syall merahmu.

Wow, ada apa denganku? Betapa bodoh aku membiarkanmu pergi begitu saja tanpa mendengar jawabanku!

Segera ku bayar tagihan di meja kasir, mengejarmu yang berjalan cepat menembus hujan yang mulai lebat. Kupicingkan mataku, mencari-cari gadis berambut panjang dengan syall merah di leher. Ahh, itu dia, berdiri di seberang jalan dengan wajah sedih. Wajah yang cantik, namun dalam sekejap kubuat meneteskan air mata. Aku memang bodoh.

Kuhampiri kamu dari belakang, sambil membuka payung, melindungimu dari hujan.

Kenapa tidak tunggu jawabanku?” tuntutku gemas.

Kamu malah menangis, menghambur ke dalam pelukanku.”Maafkan aku karena terlalu mengharapkanmu.” isakmu getir.

Ku lepaskan pelukanmu, menunduk menatap matamu yang basah.

“You are the Sun in my day, the Wind in my sky, the Waves in my ocean, and the Beat in my Heart. You just make me melt.”

Kamu dan aku tertawa dalam guyuran air hujan.

Silahkan Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s