Mawar yang Layu

Serumpun mawar merah tumbuh di halaman rumah. Duri-duri tajam dan panjang tampak menyembul dari batang-batangnya yang kokoh. Gutasi hampir terjadi di semua daun, mungkin karena semalam hujan deras.  Tanaman lain juga tak mau kalah.

Saya mencoba untuk menilik dan mendengar percakapan bunga-bunga di pagi hari. Hihihi

” Hei, kenapa kamu sedih begitu?” mawar segar bertanya pada mawar yang ada di  sebelahnya

” Aku tidak sedih, aku hanya sedikit layu. Lihatlah, beberapa kelopak bungaku tercerabut.” mawar yang layu berkata dengan murung, mencoba untuk tersenyum.

“Bagaimana kejadiannya, dear?” Mawar segar bersimpati. Bagi bunga, yang terpenting adalah keindahan dan kesempurnaan warna mereka serta kelopak bunga yang segar. Apalagi, sebagai bunga mawar, mereka sangat beruntung karena diberi wewangian alami sehingga  mengundang lebah dan kupu-kupu mendekat, mencari nectar, menyebarkan benih-benih anak mereka kelak.

“Ahh, memalukan. Aku tak bisa menceritakannya padamu.” Mawar Layu mengelak.

“Ceritalah, aku tidak akan tertawa, lagipula aku masih saudaramu, kita berada dalam pangkal pohon yang sama kan?” Mawar Segar membujuk Mawar Layu.

Sungguh, aku malu. Aku tak bisa menjaga mahkota bungaku.”

“Oh dear. Kamu tahu kalau kamu bisa cerita apa saja padaku. Kalau kamu tak ingin, tak masalah, tapi setidaknya dengan bercerita, kamu bisa merasa lebih lega. Itu pilihan sih, aku tak akan memaksa. Aku tak akan tertawa mendengar ceritamu.” Mawar Segar mencoba menghibur Mawar Layu.

Mawar Layu merenung apakah ia akan menceritakan kejadian memalukan itu.Setelah berpikir dan menghitung dengan kelopak bunganya dengan iya atau tidak, akhirnya ia memutuskan untuk bercerita.

Kemarin sore, Anak Tuan kita bermain-main di kebun. Anak itu tampan, lucu dan menggemaskan, tentu saja bagi Tuan kita. Karena hawa yang sejuk, kamu tahu kan, kemarin itu hujan, sejuk sekali. Aku tertidur. Kamu juga….” Mawar Layu memulai ceritanya. Mawar-mawar lain yang semula asik dengan obrolan mereka, kini terdiam dan mendengar cerita Mawar Layu. Mawar demen Ngerumpi juga yaa..

“Iya dear, hawa sungguh sejuk, aku pun tak kuasa menahan kantuk.” Mawar Segar mengangguk-angguk, diikuti mawar-mawar lain. “Lantas ada apa sebenarnya?”

Sewaktu kita tertidur itu, Anak Tuan kita mendekati rumpun. Semula ia hanya mencium bau tubuh kita. Tapi… Lama-kelamaan ia sangat tertarik, terutama padaku. Diciuminya tubuhku berkali-kali, ia mengelus-elus kelopak bungaku. Aku takut kelopakku akan jatuh kalau ia menyentuhku. Kamu tahu kan, akulah yang mempunyai kelopak bunga paling banyak dan paling besar di antara kalian semua…” Mawar Layu bercerita dengan sendu.

Begitu tertariknya ia padaku,hingga ia ingin mencabutku dari pangkal pohon. Ia memegang rantingku. Tentu saja tangannya tertusuk duri dan berdarah. Tapi ia tetap mencoba mencabutku bersama rantingku yang berduri. Kelopak bungaku terguncang begitu hebatnya, sehingga beberapa tercerabut, kemudian terlepas. Ahh, sungguh sakit rasanya, mahkotaku terlepas. Mahkota Bungaku say! Mahkota Bunga kebanggaan ku, kebanggaan kita!”

Lihatlah aku sekarang, aku tak sempurna lagi, seperti kamu, dan mereka itu.” Mawar Layu akhirnya menangis.

“Oh dear… Bagaimana aku bisa tertawa mendengar kisahmu. Toh itu bukan salahmu kalau kelopakmu tercerabut. Juga bukan salah Anak Tuan jika dia begitu menginginkanmu. Kamu cantik, manis, dan harum…

“Iya, aku tahu itu. Tapi…  Aku tak bisa menjaga Mahkota Bungaku. Ini benar-benar sulit kuterima. Kamu tak mengerti. Kenapa ia tak memotongku sekalian??”

“Hmm.. Begini saja. Tataplah bunga ilalang di lapangan, dear. Lihat, mereka tak punya Mahkota Bunga seperti kita, tapi mereka tetap bernyanyi riang setiap pagi. Manusia selalu berusaha menyingkirkan mereka, memotong mereka, tapi mereka tetap tumbuh, dan berbunga kembali. Itu karena akar mereka yang kokoh, tertanam dan menyebar di atas begitu juga di bawah tanah. Bahkan dengan membakar mereka, belum tentu ilalang akan mati.

“Ahh, apa hubungannya denganku? Kita berbeda dengan mereka. Aku mawar, dan mereka ilalang! Jelas berbeda!” Mawar Layu malah emosi karena disamakan dengan ilalang yang jelek, dan bau.

“Jangan lihat pada tampilan mereka, dear. Lihatlah ke dalam. Mereka punya keinginan yang kuat untuk bangkit. Apa kamu mau kalah dari ilalang?”

” Tentu tidak! Ahh, kamu selalu menjadi panutanku. Kamu tahu cara menghiburku, menasihatiku dengan kata-kata pamungkas.” Mawar Layu tersenyum tulus.

“Bukan aku, dear. Tapi Ilalang! Ilalang tuh yang mengajari kita!!” Mawar Segar menimpuk Mawar Layu dengan batu. *lhoh?!*

Mawar Segar melanjutkan petuahnya..

Kamu tahu dear, kamu berharga. Jangan kalah dari ilalang. Bahkan Anak Tuan tak bisa mencabutmu. Kamu bisa menggores tangannya dengan durimu yang tajam. Walaupun mahkotamu rusak, kamu tetap harum. Ingatlah, mawar dihargai bukan hanya dari Mahkota Bunganya, tapi juga keharumannya.”

2 comments on “Mawar yang Layu

Silahkan Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s